Kamis, 14 Juni 2012
Memastikan Manfaat Usulan Masyarakat
MEMASTKAN MANFAAT USULAN MASYARAKAT
Dalam PNPM
Mandiri Perdesaan
Oleh : Ruslan Daud
Mendogu (Faskab Luwu Timur)
Musyawarah Desa Khusus Perempuan
(MDKP) dan Musyawarah Desa Perencanaan
(MD 2) atau dalam era integrasi ini hanya di kenal dengan musrembangdes adalah
sarana yang digunakan oleh masyarakat Desa /Kelurahan untuk mendiskusikan dan menetapkan usulan –
usulan yang akan diajukan pada PNPM Mandiri Perdesaan dan sumber – sumber pendanaan
lainnya yang memungkinkan dapat diakses termasuk sumber pendanaan dari ADD.
Media Musrembangdes seyogyanya menjadi wadah untuk benar – benar mendiskusikan
permasalahan Desa yang paling mendesak untuk segera diselesaikan. Namun berdasarkan
kenyataan yang terjadi di lapangan, kedua wadah ini juga tidak terlepas dari
interfensi dari para elit yang mencoba mempengaruhi peserta musyawarah agar
menyepakati usulan yang mereka ajukan dimana manfaatnya lebih berpihak pada
golongan tertentu dan kurang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat miskin
atau Rumah Tangga miskin yang merupakan golongan yang menjadi sasaran PNPM
Mandiri Perdesaan. Masyarakat peserta pertemuan kadang – kadang tidak menyadari
bahwa mereka sedang atau telah digiring untuk menyepakati usulan yang
sebenarnya kurang memberikan manfaat bagi masyarakat miskin khusuanya dalam
kontribusinya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat
miskin.
Interfensi dan pengaruh para elit
desa pada saat penentuan dan penetapan usulan sangat sulit dihindarkan karena metode yang dipakai sangat apik dengan
memanfaatkan keberadaan para peserta pertemuan.
Kesan yang timbul adalah bahwa usulan tersebut memang berasal dari
usulan masyarakat peserta pertemuan dan
mangat dibutuhkan merupakan kebuthan
dasar yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat khususnya Rumah
Tangga Miskin.
Sebagai Fasilitator, baik fasilitator
Kecamatan maupun Fasilitator Teknik harus menguji setiap usulan yang diajukan
oleh masyaarkat berdasarkan criteria dan mekanisme yang telah ditetapkan oleh
program. Ada beberapa strategi yang harus dilaksanakan untuk menilai apakah
usulan masyarakat benar – benar merukan kebutuhan dasar atau hanya sekedar
titipan dari para elit – elt desa. Langkah – langkah yang harus diambil seorang
fasilitator adalah sebagai berikut:
1. Menguji Usulan dengan criteria usulan yang telah ditetapkan oleh program. Ada 5 (lima) criteria usulan yang
harus perhatikan yaitu:
-
Lebih Bermanfaat bagi Rumah Tangga Miskin. Pastikan bahwa usulan masyarakat
tersebut lebih bermanfaat bagi masyarakat miskin disbanding dengan masyarakat
lainnya. Fasilitator harus menfasilitasi masyarakat untuk menyebutkan manfaat –
manfaat apa saja yang dapat dirasakan oleh masyarakat miskin ketika usulan yang
ada telah dikerjakan. Manfaat ini tidak hanya pada saat usulan tersebut
dikerjakan, namun harus dipastikan manfaat apa yang akan dirasakan oleh
masyarakat miskin ketika usulan tersebut telah rampung dikerjakan (Penjelasan
manfaat tidak bisa hanya dengan menyebutkan bermanfaat tetapi mengifentarisir
apa – apa manfaat tersebut) Fasilitator harus mencatat manfaat – manfaat yang
disebutkan masyarakat.
-
Berdampak langsunng pada peningkatan kesejahteraan Masyarakat Miskin. Minta masyarakat untuk menjelaskan
dampak – dampak yang akan ditimbulkan usulan tersebut terhadap peningkatan
kesejahteraan masyarakat.
-
Dapat dikerjakan oleh masyarakat. Pastikan bahwa masyarakat dapat
mengerjakan usulan yang mereka ajukan. Data ketersediaan SDM baik tukang maupun
buruh yang ada di desa yang dapat
menjamin bahwa masyarakat dapat mengerjakan usulan tersebut. Pada item criteria
ini termasuk juga swadaya masyarakat, diskusikan bersama masyarakat apa yang
dapat diswadayakan masyarakat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas
pengerjaan usulan tersebut.
-
Didukung OLeh Sumberdaya local. Diskusikan
dan catat sumber daya local apa saja yang dimiliki oleh desa untuk memperlancar
pengerjaan usulan masyarakat tersebut.
-
Memiliki Potensi untuk berkembang dan Berkelanjutan. Diskusikan bersama masyarakat apakah usulan yang ada
jika mdikerkan akan dapat berkembang dan berkelanjutan. Apa yang akan dilakukan
oleh masyarakat agar kedua criteria ini dapat terwujud. Pastikan bersama
masyarakat bahwa usulan yang ada akan lebih lama memberikan manfaat bagi masyarakat
desa khususnya dari kalangan masyarakat miskin.
Pembahasan keterkaiatan usulan masyarakat dengan criteria dan mekanisme yang telah ditetapkan oleh PNPM
Mandiri Perdesaan tersebut diatas tidak
cukup hanya dengan mengatakan ada manfaatnya, ada sumberdaya, ada SDM dan dapat
berkelanjutan kemudian mencentangnya, namun harus diuraikan dan disebutkan agar
dapat memastikan bahwa usulan yang satu benar – benar lebih bermanfaat dari
pada usulan lainnya.
2.
Menguji usulan dengan hasil – hasil
penggalian gagasan untuk melihat apakah usulan tersebut memang muncul dalam tahapan – tahapan penggalian
gagasan.
Proses
Penggalian Gagasan (Pegas) melalui format MMDD ( Menggali Masa Depan Desa),
adalah wadah untuk mendiskusikan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat desa.
Pegas menggunakan alat – alat kajian yang memungkingkan masyarakat akan mudah
mengungkapkan permasalahan dasar yang
mereka hadapi. Usulan masyarakat
tersebut harus diuji kembali apakah apakah muncul pada alat – alat kajian yang
digunakan saat melakukan proses Pegas (Musdus I, FGD dan Musdus II). Pastikan
bahwa usulan tersebut muncul pada permasalahan dengan menggunakan alat – alat pegas dibawah ini:
a. Masalah dan Potensi
b. Klasifikasi Kesejahteraan/Kriteria
RTM (miskin dan sangat Miskin).
c. Peta Sosial dusun dan desa.
d. Diagram Venn/ Bagan hubungan
Kelembagaan.
e. Analisa Penyebab Kemiskinan.
f.
Kalender
Musim dan alat – alat kajian lainnya yang digunakan di desa.
Jika
usulan tersebut tidak pernah muncul pada alat – alat kajian yang digunakan pada
tahapan Pegas, maka perlu didiskusikan kemabali bersama masyarakat apakah
usulan yang mereka ajukan benar – benar merupakan kebutuhan dasar mereka.
Catatan:
Lima Kriteria ini tidak hanya berlalku untuk usulan yang diajukan pendanaannya
dari PNPM mandiri Perdesaan tetapi juga berlaku untuk semua ,usulan desa yang
diajukan pada saat musrembangdes.
3. Memastikan usulan yang diajukan oleh masyarakat untuk dibiaya oleh PNPM
Mandiri Perdesaan tidak termasuk dalam daftar list yang tidak diperkenankan
oleh program untuk dibiyai (Tidak masuk Negatif List).
Pengujian
usulan ini merupakan wadah untuk memastikan kualitas usulan yang diajukan oleh
masyarakat dan untuk menghindari interfensi yang dilakukan oleh pihak – pihak
yang hanya memikirkan keuntungan diri sendiri dan kelompoknya dan biasanya
tidak berpikir manfaat yang akan dirasakan oleh masyarakat secara umum
khususnya masyarakat miskin.
Beberapa
Catatan Penting yang harus diperhatikan pada saat menfasilitasi Musyarah
Perencanaan Pembangunan Desa (Musrembangdes)
1. Patikan bahwa peserta musyawarah
memiliki kesempatan yang sama dalam mengungkapkan permasalahan yang dihadapi oleh
sebagaian besar masyarakat.
2. Pastikan bahwa kalangan masyarakat
miskin mendapat kesempatan untuk menyampaikan ide dan pikirannya dengan santai
dan benar – benar keluar dari hatinya yang paling dalam (Pada saat musrembangdes).
3. Pastikan bahwa wakil – wakil
perempuan memiliki kesempatan yang memadai dalam mengungkapkan pendapatnya pada
saat musrembangdes.
4. Kenali dan catat peserta yang terlalu
mendominasi pertemuan dan kalau bisa batasi hak bicaranya (tentu dengan cara
yang sopan dan tidak menyinggung perasaan). Jangan terfokus hanya pada satu
orang pembicara karena masih ada puluhan orang lainnya yang juga berhak untuk
berpendapat. Fasilitator harus dapat memberikan kesempatan bagi peserta yang
belum pernah berpendapat.
5. Setiap usulan atau pendapat
masyarakat harus tercatat, ingat kemampuan mengingat kita sangat terbatas.
6. Pastikan bahwa notulensi pertemuan
cukup baik menggambarkan pendapat peserta dan suasana pertemuan, jangan menunda
pencatatan karena dikhawatirkan akan dilupa.
7. Setiap pegambilan keputusan harus
disepakati o;eh sebagaian besar peserta, minta juga penjelasan peserta yang
tidak sepakat dengan keputusan yang diambil.
Kualitas hasil – hasil musrembangdes sangat tergantung pada kemampuan
fasilitator dalam mempersiapkan KPMD untuk dapat dan mampu mengelola pertemuan
musrembangdes. Harus diingat bahwa musrembangdes
adalah forum pengambilan keputusan tertinggi pada tingkat desa, apapbila kurang
tepat pengelolaannya, maka akan melahirkan output yang kurang tepat bagi proses
pemberdayaan dan keberdayaan masyarakat.
Selasa, 29 Mei 2012
Pelatihan Kelompok SPP
22.45
0 comments
PELATIHAN PENGURUS KELOMPOK
SPP
SEBAGAI UPAYA
MEMBANGKITKAN KESADARAN
BERORGANISASI
PEREMPUAN
Oleh: Ruslan DM (Faskab Lutim)
Kelompok Simpan Pinjam Khusus Perempuan atau
dalam perbendaharaan kata PNPM Mandiri Perdesaan lebih dikenal dengan singkatan
SPP saja merupakan unsur yang sangat penting dalam Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan. Karena harapan program
terhadap kelompok ini sangat besar khususnya dalam meningkatkan pendapatan
masyarakat yang pada gilirannya akan berkontribusi besar dalam peningkatan kesejahteraan
masyarakat yang menjadi tujuan dan cita – cita mulia PNPM mandiri Perdesaan.
| Salah satu anggota SPP di Kecamatan Towuti pada saat diverifikasi |
Harapan yang besar ini ternyata belum
sepenuhnya diikuti dengan kondisi real dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan.
Kelompok SPP yang diharapkan akan menjadi tonggak ekonomi masyarakat desa
melalui kemampuan kelompok – kelompok perempuan, ternyata masih jauh dari
harapan kita semua. Kelompok SPP yang diharapkan akan menjadi wadah utamanya bagi
kalangan perempuan untuk membangun organisasi keuangan yang kuat yang dapat
membantu mereka dalam memenihi kebutuhan bersama dan indifidu ternyata belum
dapat dikatakan berhasil bahkan masih jauh panggang dari api. Kelompok SPP yang
kita harapkan menjadi wadah bersama dalam membangun kesadaran kolektif,
ternyata banyak yang disalah gunakan dengan mengatasnamakan anggota-anggotanya
ternyata hanya dimanfatkan oleh oknum – oknum ketuanya. Kondisi ini yang saya
saksikan dan alami khususnya di beberapa
kabupaten yang pernah saya tempati tugas.
| Peserta Antusia mengikuti materi yang disajikan oleh FK |
Kondisi tersebut diatas tidak boleh dibiarkan
berlarut – larut, apalagi kalau kita sampai berlaku masa bodoh terhadap apa
yang terjadi, karena jika hal ini berlanjut, maka alamat kegagalan sebagai
fasilitator dalam mengawal upaya – upaya pemberdayaan masyarakat tentu patut
kita sandang, fasilitator gagal dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat akan
pentingnya berkelompok dan mengorganisasikan diri dalam sebuah wadah kelompok
yang kuat. Dan jika kondisi ini berlanjut sampai akhir program, maka niscaya masyarakat
akan kembali pada titi nol seperti
ketika program belum masuk di wilayah mereka, dan jika ini yang terjadi maka
sudah pasti fasilitator akan menanggung dosa sosial yang berlenjutan dan pasti
akan dimintai pertanggungjawaban kita di hadapan Allah SWT.
| Peserta serius menyimak materi yang disampaikan oleh Faskab |
Berdasarkan kondisi tersebut diatas, maka Pengurus
BKAD Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur dan mendapat dukungan sepenuhnya
dari Fasilitator Kecamatan dan Fasilitator kabupaten merancang sebuah pelatihan
penguatan kelompok SPP di kecamatan mereka dengan menggunakan dana dari surplus
untuk alokasi kelembagaan (Pada awalnya
rencana penggunaan dana surplus kelembagaan ini tidak disetujui oleh pihak FMS
RMC V dengan alasan bahwa dana surplus alokasi kelembagaan tidak dapat
digunakan untuk penguatan kelembagaan SPP karena kelompok SPP bukan bagian dari
BKAD. Pikiran ini bertentangan dengan penjelasan PTO mengani pemanfaatan dana
surplus untuk kelembagaan yang dapat digunakan untuk peningkatan kapasitas
masyarakat). Dan setelah bermusyawarah pada tingkat kecamatan yang juga
mendapat dukungan dari tim Fasilitator kecamatan dan Kabupaten, akhirnya
disepakati bahwa pelaksanaan pelatihan Penguatan kapasitas bagi pengurus kelompok
SPP di kecamatan Towuti dengan menggunakan dana surplus alokasi kelembagan harus
tetap dijalankan karena tidak bertentangan dengan ketentuan program.
| Faskab dan Kapolsek menjadi pada panel diskusi |
Pelatihan Penguatan Kapasitas bagi kelompok
SPP ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan meningkatkan kesadaran
kalangan perempuan akan pentingnya mengelola organisasi kelompok dengan baik
agar dapat menjadi wadah pengembangan ekonomi masyarakat khususnya bagi anggota
– anggotanya. Pelaksanaan pelatihan ditetapkan selama dua hari yaitu dari
Tanggal 15 – 16 Mei 2012 bertempat di gedung pertemuan Kecamatan Towuti. Jumlah peserta yang hadir 75 orang dari 100
orang yang diundang dan merupakan perwakilan dari pengurus 60 kelompok SPP di
kecamatan Towuti dimana masing – masing kelompok rata – rata diwakili satu
orang walaupun ada beberapa kelompok yang diwakili oleh dua orang pengurus.
Adapun materi – materi yang disajikan pada
kegiatan ini adalah sebagai berikut:
1.
Konsepsi PNPM Mandiri Perdesaan sebagai
materi wajib untuk semua jenis pelatihan.
2.
Kebijakan PNPM mandiri Perdesaan mengenai
Kelompok SPP
3.
Peran dan Partisipasi perempuan dalam
pengembangan Ekonomi Kerakyatan.
4.
Strategi Kebijakan Pemerintah dalam mendukung
pengembangan UMKM.
5.
Filosofi kelompok dan Tahapan perumusan Visi
Kelompok
6.
Managemen dan Pengembangan Kelompok SPP
7.
Legalitas kelembagaan Kelompok paradigm Program
8.
Penguatan Administrasi Kelompok SPP
9.
Kearifan Lokal dalam Penanganan Masalah
Beberapa unsur penting melibatkan diri dalam
menfasilitasi atau menjadi Narasumber dalam kegiatan Pelatihan ini diantaranya:
- Kepala
BPMPD Kabupaten Luwu Timur dengan materi: Peran
dan Partisipasi perempuan dalam pengembangan Ekonomi Kerakyatan.
- Camat
Towuti: Strategi Kebijakan Pemerintah
dalam mendukung pengembangan UMKM
- Kapolsek
Kecamatan Towuti dengan Materi: Kearifan
Lokal dalam penanganan Masalah ( Diskusi Interaktif yang dipanel dengan Faskab)
- Fasilitator
Kabupaten Bidang Pemberdayaan: Filosofi
kelompok dan tahapan perumusan Visi dan Misi Kelompok.
- Fasilitator
Kecamatan: Konsepsi PNPM Mandiri
Perdesaan, Managemen Pengembangan
Kelompok SPP, Penguatan Administrasi Kelompok SPP
- Ketua
BKAD Kecamatan Towuti : Legalitas
kelembagaan kelompok paradigm program.
| Foto bersama Pengurus BKAD, Faskab, dan FK-FT |
Metode dan pendekatan yang diberikan juga
beragam, dari unsur pemerintah lebih pada metode ceramah dan Tanya jawab
sementara dari unsur Fasilitator dan BKAD menggunakan metode partispasi dan
penugasan kelompok. Metode – metode dan pendekatan yang diberikan secara
berbeda ini tidak membuat peserta bingung bahkan semakin memperkaya mereka
dalam memahami beberapa materi dengan metode penyajian yang berbeda – beda.
Suasana pelatihan sangat hidup, peserta
begitu antusias dalam mengikuti kegiatan ini, bahkan diantara peserta banyak
yang membawa anak – anak mereka, sebagian sambil menggendong anak sambil
menyimak dan mengikuti kegiatan diskusi kelompok, sebagian lagi anak – anakan yang
sudah cukup besar bermain dihalaman gedung pelaksanaan kegiatan. Kondisi ini
berlangsung selama dua hari pelaksanan kegiatan dan semangat peserta tidak
kendur, hal ini terlihat pada saat penutupan kegiatan masih ada kurang lebih 70
peserta yang bertahan.
| Sesaat sebelum diskusim kelompok sempatkan berfoto |
Pemberian pemahaman dan pengetahuan selesai
sudah, tinggal bagaimana melakukan penguatan – penguatan lanjutan agar benar –
benar muncul kelompok – kelompok SPP atau kelompok simpan pinjam yang benar – benar – benar melakukan kegiatan
simpan pinjam untuk mendukung kebutuhan modal dan kebutuhan mendasar anggotanya
dan tidak hanya menjadi kelompok pinjam – pinjam, semoga lahir kelompok SPP
yang kuat dn mandiri dan tidak lagi menjadi kondisi seakan –akan berkelompok…..
semoga pengurus kelompok yang sudah dilatih akan menjadi motovator bagi anggota kelompoknya dalam membangun kelembagaan kelompok yang kuat dan menjadi harapan bagi semua anggotanya. Amin.......
Senin, 09 April 2012
Rakorkab April 2012
05.11
0 comments
INOVASI RAPAT KOORDINASI
PNPM MANDIRI
PERDESAAN
KABUPATEN LUWU TIMUR
Banyak
yang menganggap bahwa Kegiatan Rapat
Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan hanya sebagai rutinitas sehingga dalam
mengikuti kegiatan ini, peserta tidak berpartisipasi secara aktif bahkan
cenderung apatis, datang, duduk dan mendengarkan dengan cukup manis sambil
menunggu kapan selesai dan pulang kembali ke lokasi masing – masing.
| Kepala BPMPDK Kabupaten Luwu Timur membawakan materi Pelayanan Prima |
Kondisi
ini cukup dipahami oleh Ibu Andi Tabacina Ahmad, Kepala BPM dan Pemdes
Kabupaten Luwu Timur yang baru manjabat sebagai kepala Badan pada tanggal 12
Maret 2012. Dalam Pandangan beliau kegiatan Rapat Koordinasi PNPM Mandiri
Perdesaan Kabupaten Luwu Timur harus dikelola lebih kraetif lagi misalnya
dengan metode outbound. Kaban yang lebih suka dpanggil Andita ini akhirnya
berdiskusi dengan timFaskab PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Luwu Timur
mengenai peluang untuk mengemas kegiatan Rakor Kabupaten dalam bentuk kegiatan
kelas dan kegiatan luar kelas. Gayung bersambut,karena tim Faskab juga
mengharapkan pelaksanaan rakor kabupaten memberikan pembelajaran tidak hanya
dari sisi informasi yang didapatkan tetapi diharapkan peserta juga mendapat
pengalaman dan pembelajaran yang berarti dalam mengikuti kegiatan Rakor
Kabupaten. Rakor Kabupaten ini akan dilaksanakan di Hotel Sinar Kasih Soroako,
sebuah hotel tertua di wialayah Tambang Nikel ini.
Berdasarkan
kesepakatan tersebut, maka disusunlah jadwal pelaksanaan Rakor diman secara
besarnya dapat digambarkan sebagai berikut:
2.
Hari
kedua adalah kegiatan luar kelas yang dikemas dalam bentuk outbound, kegiatan
ini berlangsung kurang lebih 8 Jam yang berlokasi di Sekitar Danau Matano, dan
masih dilanjutkan dengan kegiatan kelas untuk mengikuti materi penguatan dengan
judul pelayanan prima yang dibawakan oleh ibu Kepala Badan.
Kegiatan
dalam kelas diisi dengan materi – materi sebagai berikut:
-
Informasi
terkini khususnya yang berkaitan dengan hasil kinjungan Ibu Deputi Koorprov
dibeberapa kecamatan ( Mangkutana, Tomoni dan Wotu) dimana masih menemukan
beberapa kekurangan dalam hal pencatatan pembukuan UPK dan yang berkaitan
dengan pengendalian dan pendampingan pihak Fasilitator Kecamatan. Materi ini
secara bergantian disampaikan oleh Tim Faskab PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten
Luwu Timur.
-
ReFleksi
Pengelolaan Kegiatan Prasarana Fisik (Pelelangan, Laporan prasarana dan
Sertifikasi serta Trial) dibawakan oleh Fastekab (Guntur Amir)
-
Managemen
Pengelolaan Pelatihan dan Pengelolaan Administrasi Program yang disampaikan
oleh Faskab Pemberdayaan (Ruslan Daud Mendogu)
-
Evaluasi
Laporan Keuangan dan Penanganan Maslah berdasarkan skala Prioritas yang
dibawakan oleh Faskeu (Andi Narwis).
Metode
yang digunakan adalah brainstorming, presentasi dan dialog. Para peserta cukup
antusias dalam mengikuti tiga materi ini, diskusi dan dialog juga berlangsung
cukup hidup antara pembawa materi dengan peserta yang terdiri dari unsur FK dan
FT, Pengurus UPK, Pendamping Lokal dan unsur PjOK. Kegiatan dalam kelas ini
berlangsung selama sehari penuh.
| Jogging Pagi sebelum Outbound |
Setelah
kegiatan Senam pagi usai, para peserta istrahat sejenak sampil sarapan pagi dan
tepat jam 08.30 seluruh peserta bersama dengan Tim Koordinasi PNPM Mandiri
Kabupaten Luwu Timur menuju lokasi kegiatan outbound yaitu dpinggir Danau
Matano Soroako. Kegiatan Luar Kelas ini diawali dengan senam ketawa, sebuah
senam untuk merilekskan pikiran masing – masing peserta dan membuang berbagai
permasalahan yang menganggu pikirannya sehingga dapat mengikuti kegiatan Outbounf dengan penuh
kecerian.
| Senam Ketawa untuk merilekskan pikiran |
1.
Berbaris
berdasarkan unsur – unsur yang telah ditetapkan oleh pihak instrukur. Adapaun
unsur kelompok yang ditetapkan adalah sebagai berikut: 1. Unsur PjOK, Satker
dan Unsur Tim Faskab. 2. Unsur Pengurus UPK dan Pendamping local. 3. Unsur
Fasilitator Pemberdayaan dan 4. Unsur Fasilitator Teknik.
| Ha..hu... sambil maenyebutkan nama 5 orang kiri kanan |
3.
Kegiatan
berkutnya peserta diminta untuk berbaris dimasing – kelompok berdasarkan tahun
kelahiran, mulai dari paling kecil yang dilanjutkan dengan peserta dimnita
untuk membentuk barisan berdasarkan pada urutan nomor sepatu dari yang paling
kecil sampai yang besar. Kelompok yang dapat membtuk barisan paling cepat
mendapatkan hadiah tepuk tangan dari para peserta dan pihak Instruktur.
| Ayo siapa yang paling panjang barisannya...... |
| Bisa gak balikkan badan tanpa mlepas pegangan???? |
5.
Seluruh
Kelompok kembali untuk membuat lingkaran kecil masing – masing kelompok dengan
cara bepegang tangan dan saling berhadap – hadapan . Instruksi yang diberikan
oleh oleh instrutur adalah semua kelompok harus dapat membalikkan badang dan
saling membelakangi dengan tidak melepaskan pegangan tangan masing – masing (
Kelompok yang terlihat melepaskan tangan dianggap gugur). Tahap ini yang
dianggap paling cepat melakukan adalah kelompok UPK.
| Ibu kaban turut serta dalam acara outbound, salut buat Ibu |
| Memindahkan gelang hulahu tampa lepas tangan |
| Bolanya jangan sampai jatuh yah.... |
8.
Kegiatan
Selanjutnya adalah Perlombaan membawa bola plastic diatas tandu dengan cacatan
bola yang ada tidak boleh jatuh. Pada sampai diujung lapangan harus dilanjutkan
oleh dua anggota Tim yang sudah siap dengan cara membawa bola dengan cara dijepit diperut sampai
pertengahan lapangan. Dan dipertengahan lapangan dua orang anggota Tim yang
sudah siap dan harus membawa bola dengan cara jepit dipunggung masing – masing.
Keduanya harus membawa bola tersebut sampai di garis star. Pada Sesi pertama
yang berlomba adalah Tim Satker Vs Tim UPK dan
PL yang dimenangkan oleh Tim UPK. Sesi kedua yang berlomba adalah Tim FK
Vs Tim FT yang dimenangkan oleh Tim FT. Pada acara Final Tim FT melawan Tim UPK
dimenagkan oleh Tim UPK.
| Ayo.... siapa cepat sampai di finish..... |
9.
Kegiatan
Selanjutnya adalah perlombaan adu kecepatan dengan cara menginjak kayu yang
dipegang oleh masing – masing anggota kelompok sampai pada garis finis yang
telah ditentukan. Pada tahap ini masing – masing anggota kelompok sebanyak 10
orang saling berhadap – hadapan dengan memegang sepotong kayu yang akan
dijadikan pijakan oleh salah satu anggota kelompok untuk mencapai finis.
Anggota kelompok yang naik dikayu tidak boleh jatuh sampai diakhir tempat yang
ditetapkan sebagai garis finis. Bukan saja dibutukan kekuatan fisik tetapi juga
kecerdasan untuk berpindah agar yang ditugasi berjalan diatas kayu – kayu yang
dipegang tadi tidak terjatuh yang berakibat pada didiskualifikasinya kelompok
yang melanggar. Tahap Pertama Tim Satker melawan Tim UPK dan dimenangkan oleh
Tim UPK. Tahap kedua mTim FK melawan Tim FK dan dimenagkan oleh tim FT. Pada
saat Final yang menjadi terbaik adalah Tim UPK.
Diantara
beberapa kegiatan outbound sebagaimana yang disebutkan diatas, masih ada
beberapa kegiatan yang cukup memberikan semangat bagi para peserta untuk
terlibat dan berapartisipasi aktif tanpa melihat perbedaan posisi, semuanya
menjadi satu saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama. Kegiatan Outbound
diakhiri dengan acara refreshing mandi – mandi di Danau Matono, yang merupakan
salah satu danau terdalam di dunia. Badan kembali segar dan siap lagi untuk
mnegikuti kegiatan selanjutnya.
Setelah
makan siang, para peserta kembali ke hotel dan beristrahat sejeknak untuk
menghilangkan penat selama kegiatan Outbound. Tepat pada pukul 14.00, kegiatan
kelas dilanjutkan dengan materi Pelayanan Prima ,yang lamgsung dibawakan oleh
ibu kepala BPM dan Pemdes Kabupaten Luwu Timur ibu Andi Tabacina Ahmad, M.Si
yang lebih suka kalau dipanggil Andita. Menurut Andita Inti dari Pelayanan
Prima adalah akumulasi dari Pengetahuan, Keterampilan dan Sikap, lebih lanjut
beliau mengatakan bahwa pelayana prima adalah pelayanan yang dilakukan dengan
hati dan penuh keikhlasan atau Fibrant
Facilitation. Beberapa catatan materi tentang pelayanan prima adalah
sebagai berikut:
1.
Rapat
Koordinasi jangan dianggap sebagai rutinitas, tetapi yakin saja pasti ada
tambahan nilai yang didapat dari kegiatan Rakor baik disadari maupun tidak
disadari.
2.
Teori
sebaik apapun, jika tidak ditunjang sinergitas antara otak kiri dan otak kanan,
maka hasilnya akan kurang bermanfaat.
3.
Orang
bisa bertahan hidup tanpa makan beberapa hari, tetapi hidup tanpa harapan
kadang – kadang dapat membunuh.
4.
Sebagai
Fasilitator masyarakat, maka harus menerapkan pelayanan prima dalam setiap
kegiatan.
5.
Teori
dan aplikasi harus berjalan seimbang dan sinergis, tidak boleh yang satu
dianggap lebih penting dari yang lainnya.
6.
Pelayanan prima adalah bekerja dengan cinta, sepenuh hati dan ihlas.Bekerja karena
kesadaran ingin membangun bukan karena mengharapkan materi.
Metode
Rakor ini sangat berkesan diantara para peserta dan berharap agar Rakor – rakor
selanjutnya selalu ada inovasi yang diciptakan agar Rakor benar – benar dapat
memberikan pembelajaran bagi semua yang hadir. Dengan metode baru ini, tercatat
semua unsur yang harus hadir, semuanya hadir
sampai pada acara penutupan rakor. Kondisi yang belum pernah terjadi
dalam sejarah Pelaksanaan Rakor PNPM Mandiri Perdesaan di Bumi Batarguru ini
Kabupaten Luwu Timur yang merupakan harapan semua Fasilitator dan Pelaku –
pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di Kabupaten Paling Ujung Sulawesi Selatan ini.










