This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selamat Datang di Blog PNPM Mandiri Perdesaan-Bumi Bataraguru, Kab. Luwu Timur

Kamis, 14 Juni 2012

Memastikan Manfaat Usulan Masyarakat


MEMASTKAN MANFAAT  USULAN MASYARAKAT
Dalam PNPM Mandiri Perdesaan
Oleh : Ruslan Daud Mendogu  (Faskab Luwu Timur)

Musyawarah Desa Khusus Perempuan (MDKP) dan Musyawarah  Desa Perencanaan (MD 2) atau dalam era integrasi ini hanya di kenal dengan musrembangdes adalah sarana yang digunakan oleh masyarakat Desa /Kelurahan  untuk mendiskusikan dan menetapkan usulan – usulan yang akan diajukan pada PNPM Mandiri Perdesaan dan sumber – sumber pendanaan lainnya yang memungkinkan dapat diakses termasuk sumber pendanaan dari ADD. Media Musrembangdes seyogyanya menjadi wadah untuk benar – benar mendiskusikan permasalahan Desa  yang paling mendesak   untuk segera diselesaikan. Namun berdasarkan kenyataan yang terjadi di lapangan, kedua wadah ini juga tidak terlepas dari interfensi dari para elit yang mencoba mempengaruhi peserta musyawarah agar menyepakati usulan yang mereka ajukan dimana manfaatnya lebih berpihak pada golongan tertentu dan kurang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat miskin atau Rumah Tangga miskin yang merupakan golongan yang menjadi sasaran PNPM Mandiri Perdesaan. Masyarakat peserta pertemuan kadang – kadang tidak menyadari bahwa mereka sedang atau telah digiring untuk menyepakati usulan yang sebenarnya kurang memberikan manfaat bagi masyarakat miskin khusuanya dalam kontribusinya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat miskin.
Interfensi dan pengaruh para elit desa pada saat penentuan dan penetapan usulan sangat sulit dihindarkan  karena metode yang dipakai sangat apik dengan memanfaatkan keberadaan para peserta pertemuan.  Kesan yang timbul adalah bahwa usulan tersebut memang berasal dari usulan masyarakat peserta pertemuan  dan mangat dibutuhkan  merupakan kebuthan dasar yang benar-benar   dirasakan oleh masyarakat khususnya Rumah Tangga Miskin. 
Sebagai Fasilitator, baik fasilitator Kecamatan maupun Fasilitator Teknik harus menguji setiap usulan yang diajukan oleh masyaarkat berdasarkan criteria dan mekanisme yang telah ditetapkan oleh program. Ada beberapa strategi yang harus dilaksanakan untuk menilai apakah usulan masyarakat benar – benar merukan kebutuhan dasar atau hanya sekedar titipan dari para elit – elt desa. Langkah – langkah yang harus diambil seorang fasilitator adalah sebagai berikut:

1.      Menguji Usulan dengan criteria usulan yang telah ditetapkan oleh program. Ada 5 (lima) criteria usulan yang harus perhatikan yaitu:
-          Lebih Bermanfaat bagi Rumah Tangga Miskin. Pastikan bahwa usulan masyarakat tersebut lebih bermanfaat bagi masyarakat miskin disbanding dengan masyarakat lainnya. Fasilitator harus menfasilitasi masyarakat untuk menyebutkan manfaat – manfaat apa saja yang dapat dirasakan oleh masyarakat miskin ketika usulan yang ada telah dikerjakan. Manfaat ini tidak hanya pada saat usulan tersebut dikerjakan, namun harus dipastikan manfaat apa yang akan dirasakan oleh masyarakat miskin ketika usulan tersebut telah rampung dikerjakan (Penjelasan manfaat tidak bisa hanya dengan menyebutkan bermanfaat tetapi mengifentarisir apa – apa manfaat tersebut) Fasilitator harus mencatat manfaat – manfaat yang disebutkan masyarakat.
-          Berdampak langsunng pada peningkatan kesejahteraan Masyarakat Miskin. Minta masyarakat untuk menjelaskan dampak – dampak yang akan ditimbulkan usulan tersebut terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

-          Dapat dikerjakan oleh masyarakat. Pastikan bahwa masyarakat dapat mengerjakan usulan yang mereka ajukan. Data ketersediaan SDM baik tukang maupun buruh yang ada di desa  yang dapat menjamin bahwa masyarakat dapat mengerjakan usulan tersebut. Pada item criteria ini termasuk juga swadaya masyarakat, diskusikan bersama masyarakat apa yang dapat diswadayakan masyarakat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pengerjaan usulan tersebut.
-          Didukung OLeh Sumberdaya local.  Diskusikan dan catat sumber daya local apa saja yang dimiliki oleh desa untuk memperlancar pengerjaan usulan masyarakat tersebut.
-          Memiliki Potensi untuk berkembang dan Berkelanjutan. Diskusikan  bersama masyarakat apakah usulan yang ada jika mdikerkan akan dapat berkembang dan berkelanjutan. Apa yang akan dilakukan oleh masyarakat agar kedua criteria ini dapat terwujud. Pastikan bersama masyarakat bahwa usulan yang ada akan lebih lama memberikan manfaat bagi masyarakat desa khususnya dari kalangan masyarakat miskin.
Pembahasan keterkaiatan usulan masyarakat dengan criteria  dan mekanisme yang telah ditetapkan oleh PNPM Mandiri Perdesaan  tersebut diatas tidak cukup hanya dengan mengatakan ada manfaatnya, ada sumberdaya, ada SDM dan dapat berkelanjutan kemudian mencentangnya, namun harus diuraikan dan disebutkan agar dapat memastikan bahwa usulan yang satu benar – benar lebih bermanfaat dari pada usulan lainnya.
2.      Menguji usulan dengan hasil – hasil penggalian gagasan untuk melihat apakah usulan tersebut memang  muncul dalam tahapan – tahapan penggalian gagasan.
Proses Penggalian Gagasan (Pegas) melalui format MMDD ( Menggali Masa Depan Desa), adalah wadah untuk mendiskusikan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat desa. Pegas menggunakan alat – alat kajian yang memungkingkan masyarakat akan mudah mengungkapkan permasalahan  dasar yang mereka hadapi.  Usulan masyarakat tersebut harus diuji kembali apakah apakah muncul pada alat – alat kajian yang digunakan saat melakukan proses Pegas (Musdus I, FGD dan Musdus II). Pastikan bahwa usulan tersebut muncul pada permasalahan dengan menggunakan  alat – alat pegas dibawah ini:
a.      Masalah dan Potensi
b.      Klasifikasi Kesejahteraan/Kriteria RTM (miskin dan sangat Miskin).
c.       Peta Sosial dusun dan desa.
d.      Diagram Venn/ Bagan hubungan Kelembagaan.
e.      Analisa Penyebab Kemiskinan.
f.        Kalender Musim dan alat – alat kajian lainnya yang digunakan di desa.
Jika usulan tersebut tidak pernah muncul pada alat – alat kajian yang digunakan pada tahapan Pegas, maka perlu didiskusikan kemabali bersama masyarakat apakah usulan yang mereka ajukan benar – benar merupakan kebutuhan dasar mereka.
Catatan: Lima Kriteria ini tidak hanya berlalku untuk usulan yang diajukan pendanaannya dari PNPM mandiri Perdesaan tetapi juga berlaku untuk semua ,usulan desa yang diajukan pada saat musrembangdes.

3.      Memastikan usulan yang diajukan oleh masyarakat untuk dibiaya oleh PNPM Mandiri Perdesaan tidak termasuk dalam daftar list yang tidak diperkenankan oleh program untuk dibiyai (Tidak masuk Negatif List).

Pengujian usulan ini merupakan wadah untuk memastikan kualitas usulan yang diajukan oleh masyarakat dan untuk menghindari interfensi yang dilakukan oleh pihak – pihak yang hanya memikirkan keuntungan diri sendiri dan kelompoknya dan biasanya tidak berpikir manfaat yang akan dirasakan oleh masyarakat secara umum khususnya masyarakat miskin.

Beberapa Catatan Penting yang harus diperhatikan pada saat menfasilitasi Musyarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrembangdes)
1.      Patikan bahwa peserta musyawarah memiliki kesempatan yang sama dalam mengungkapkan permasalahan yang dihadapi oleh sebagaian besar masyarakat.
2.      Pastikan bahwa kalangan masyarakat miskin mendapat kesempatan untuk menyampaikan ide dan pikirannya dengan santai dan benar – benar keluar dari hatinya yang paling dalam (Pada saat musrembangdes).
3.      Pastikan bahwa wakil – wakil perempuan memiliki kesempatan yang memadai dalam mengungkapkan pendapatnya pada saat musrembangdes.
4.      Kenali dan catat peserta yang terlalu mendominasi pertemuan dan kalau bisa batasi hak bicaranya (tentu dengan cara yang sopan dan tidak menyinggung perasaan). Jangan terfokus hanya pada satu orang pembicara karena masih ada puluhan orang lainnya yang juga berhak untuk berpendapat. Fasilitator harus dapat memberikan kesempatan bagi peserta yang belum pernah berpendapat.
5.      Setiap usulan atau pendapat masyarakat harus tercatat, ingat kemampuan mengingat kita sangat terbatas.
6.      Pastikan bahwa notulensi pertemuan cukup baik menggambarkan pendapat peserta dan suasana pertemuan, jangan menunda pencatatan karena dikhawatirkan akan dilupa.
7.      Setiap pegambilan keputusan harus disepakati o;eh sebagaian besar peserta, minta juga penjelasan peserta yang tidak sepakat dengan keputusan yang diambil.

Kualitas hasil – hasil musrembangdes sangat tergantung pada kemampuan fasilitator dalam mempersiapkan KPMD untuk dapat dan mampu mengelola pertemuan musrembangdes.  Harus diingat bahwa musrembangdes adalah forum pengambilan keputusan tertinggi pada tingkat desa, apapbila kurang tepat pengelolaannya, maka akan melahirkan output yang kurang tepat bagi proses pemberdayaan dan keberdayaan masyarakat.

Selasa, 29 Mei 2012

Pelatihan Kelompok SPP


PELATIHAN PENGURUS KELOMPOK SPP
SEBAGAI UPAYA MEMBANGKITKAN KESADARAN
BERORGANISASI PEREMPUAN
Oleh: Ruslan DM (Faskab Lutim)

Kelompok Simpan Pinjam Khusus Perempuan atau dalam perbendaharaan kata PNPM Mandiri Perdesaan lebih dikenal dengan singkatan SPP saja merupakan unsur yang sangat penting dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan. Karena harapan program terhadap kelompok ini sangat besar khususnya dalam meningkatkan pendapatan masyarakat yang pada gilirannya akan berkontribusi besar dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat yang menjadi tujuan dan cita – cita mulia PNPM mandiri Perdesaan.

Salah satu anggota SPP di Kecamatan Towuti pada saat diverifikasi
Harapan yang besar ini ternyata belum sepenuhnya diikuti dengan kondisi real dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan. Kelompok SPP yang diharapkan akan menjadi tonggak ekonomi masyarakat desa melalui kemampuan kelompok – kelompok perempuan, ternyata masih jauh dari harapan kita semua. Kelompok SPP yang diharapkan akan menjadi wadah utamanya bagi kalangan perempuan untuk membangun organisasi keuangan yang kuat yang dapat membantu mereka dalam memenihi kebutuhan bersama dan indifidu ternyata belum dapat dikatakan berhasil bahkan masih jauh panggang dari api. Kelompok SPP yang kita harapkan menjadi wadah bersama dalam membangun kesadaran kolektif, ternyata banyak yang disalah gunakan dengan mengatasnamakan anggota-anggotanya ternyata hanya dimanfatkan oleh oknum – oknum ketuanya. Kondisi ini yang saya saksikan dan alami  khususnya di beberapa kabupaten yang pernah saya tempati tugas.

Peserta Antusia mengikuti materi yang disajikan oleh FK
Kondisi tersebut diatas tidak boleh dibiarkan berlarut – larut, apalagi kalau kita sampai berlaku masa bodoh terhadap apa yang terjadi, karena jika hal ini berlanjut, maka alamat kegagalan sebagai fasilitator dalam mengawal upaya – upaya pemberdayaan masyarakat tentu patut kita sandang, fasilitator gagal dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya berkelompok dan mengorganisasikan diri dalam sebuah wadah kelompok yang kuat. Dan jika kondisi ini berlanjut sampai akhir program, maka niscaya masyarakat  akan kembali pada titi nol seperti ketika program belum masuk di wilayah mereka, dan jika ini yang terjadi maka sudah pasti fasilitator akan menanggung dosa sosial yang berlenjutan dan pasti akan dimintai pertanggungjawaban kita di hadapan Allah SWT.

Peserta serius menyimak materi yang disampaikan oleh Faskab
Berdasarkan kondisi tersebut diatas, maka Pengurus BKAD Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur dan mendapat dukungan sepenuhnya dari Fasilitator Kecamatan dan Fasilitator kabupaten merancang sebuah pelatihan penguatan kelompok SPP di kecamatan mereka dengan menggunakan dana dari surplus untuk alokasi kelembagaan (Pada awalnya rencana penggunaan dana surplus kelembagaan ini tidak disetujui oleh pihak FMS RMC V dengan alasan bahwa dana surplus alokasi kelembagaan tidak dapat digunakan untuk penguatan kelembagaan SPP karena kelompok SPP bukan bagian dari BKAD. Pikiran ini bertentangan dengan penjelasan PTO mengani pemanfaatan dana surplus untuk kelembagaan yang dapat digunakan untuk peningkatan kapasitas masyarakat). Dan setelah bermusyawarah pada tingkat kecamatan yang juga mendapat dukungan dari tim Fasilitator kecamatan dan Kabupaten, akhirnya disepakati bahwa pelaksanaan pelatihan Penguatan kapasitas bagi pengurus kelompok SPP di kecamatan Towuti dengan menggunakan dana surplus alokasi kelembagan harus tetap dijalankan karena tidak bertentangan dengan ketentuan program.


Faskab dan Kapolsek menjadi pada panel diskusi  
Pelatihan Penguatan Kapasitas bagi kelompok SPP ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan meningkatkan kesadaran kalangan perempuan akan pentingnya mengelola organisasi kelompok dengan baik agar dapat menjadi wadah pengembangan ekonomi masyarakat khususnya bagi anggota – anggotanya. Pelaksanaan pelatihan ditetapkan selama dua hari yaitu dari Tanggal 15 – 16 Mei 2012 bertempat di gedung pertemuan Kecamatan Towuti.  Jumlah peserta yang hadir 75 orang dari 100 orang yang diundang dan merupakan perwakilan dari pengurus 60 kelompok SPP di kecamatan Towuti dimana masing – masing kelompok rata – rata diwakili satu orang walaupun ada beberapa kelompok yang diwakili oleh dua orang pengurus.

Adapun materi – materi yang disajikan pada kegiatan ini adalah sebagai berikut:
1.    Konsepsi PNPM Mandiri Perdesaan sebagai materi wajib untuk semua jenis pelatihan.
2.    Kebijakan PNPM mandiri Perdesaan mengenai Kelompok SPP
3.    Peran dan Partisipasi perempuan dalam pengembangan Ekonomi Kerakyatan.
4.    Strategi Kebijakan Pemerintah dalam mendukung pengembangan UMKM.
5.    Filosofi kelompok dan Tahapan perumusan Visi Kelompok
6.    Managemen dan Pengembangan Kelompok SPP
7.    Legalitas kelembagaan Kelompok paradigm Program
8.    Penguatan Administrasi Kelompok SPP
9.    Kearifan Lokal dalam Penanganan Masalah

Beberapa unsur penting melibatkan diri dalam menfasilitasi atau menjadi Narasumber dalam kegiatan Pelatihan ini diantaranya:
-       Kepala BPMPD Kabupaten Luwu Timur dengan materi: Peran dan Partisipasi perempuan dalam pengembangan Ekonomi Kerakyatan.

-       Camat Towuti: Strategi Kebijakan Pemerintah dalam mendukung pengembangan UMKM

-       Kapolsek Kecamatan Towuti dengan Materi: Kearifan Lokal dalam penanganan Masalah ( Diskusi Interaktif yang dipanel dengan Faskab)

-       Fasilitator Kabupaten Bidang Pemberdayaan: Filosofi kelompok dan tahapan perumusan Visi dan Misi Kelompok.

-       Fasilitator Kecamatan: Konsepsi PNPM Mandiri Perdesaan, Managemen Pengembangan Kelompok SPP, Penguatan Administrasi Kelompok SPP
-       Ketua BKAD Kecamatan Towuti : Legalitas kelembagaan kelompok paradigm program.

Foto bersama Pengurus BKAD, Faskab, dan FK-FT
Metode dan pendekatan yang diberikan juga beragam, dari unsur pemerintah lebih pada metode ceramah dan Tanya jawab sementara dari unsur Fasilitator dan BKAD menggunakan metode partispasi dan penugasan kelompok. Metode – metode dan pendekatan yang diberikan secara berbeda ini tidak membuat peserta bingung bahkan semakin memperkaya mereka dalam memahami beberapa materi dengan metode penyajian yang berbeda – beda.

Suasana pelatihan sangat hidup, peserta begitu antusias dalam mengikuti kegiatan ini, bahkan diantara peserta banyak yang membawa anak – anak mereka, sebagian sambil menggendong anak sambil menyimak dan mengikuti kegiatan diskusi kelompok, sebagian lagi anak – anakan yang sudah cukup besar bermain dihalaman gedung pelaksanaan kegiatan. Kondisi ini berlangsung selama dua hari pelaksanan kegiatan dan semangat peserta tidak kendur, hal ini terlihat pada saat penutupan kegiatan masih ada kurang lebih 70 peserta yang bertahan.

Sesaat sebelum diskusim kelompok sempatkan berfoto
Pemberian pemahaman dan pengetahuan selesai sudah, tinggal bagaimana melakukan penguatan – penguatan lanjutan agar benar – benar muncul kelompok – kelompok SPP atau kelompok simpan pinjam  yang benar – benar – benar melakukan kegiatan simpan pinjam untuk mendukung kebutuhan modal dan kebutuhan mendasar anggotanya dan tidak hanya menjadi kelompok pinjam – pinjam, semoga lahir kelompok SPP yang kuat dn mandiri dan tidak lagi menjadi kondisi seakan –akan berkelompok….. semoga pengurus kelompok yang sudah dilatih akan menjadi motovator bagi anggota kelompoknya dalam membangun kelembagaan kelompok yang kuat dan menjadi harapan bagi semua anggotanya. Amin.......

Senin, 09 April 2012

Rakorkab April 2012

 

INOVASI RAPAT KOORDINASI
PNPM MANDIRI PERDESAAN
KABUPATEN LUWU TIMUR

Banyak yang menganggap bahwa Kegiatan  Rapat Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan hanya sebagai rutinitas sehingga dalam mengikuti kegiatan ini, peserta tidak berpartisipasi secara aktif bahkan cenderung apatis, datang, duduk dan mendengarkan dengan cukup manis sambil menunggu kapan selesai dan pulang kembali ke lokasi masing – masing.

Kepala BPMPDK Kabupaten Luwu Timur membawakan materi Pelayanan Prima
Kondisi ini cukup dipahami oleh Ibu Andi Tabacina Ahmad, Kepala BPM dan Pemdes Kabupaten Luwu Timur yang baru manjabat sebagai kepala Badan pada tanggal 12 Maret 2012. Dalam Pandangan beliau kegiatan Rapat Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Luwu Timur harus dikelola lebih kraetif lagi misalnya dengan metode outbound. Kaban yang lebih suka dpanggil Andita ini akhirnya berdiskusi dengan timFaskab PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Luwu Timur mengenai peluang untuk mengemas kegiatan Rakor Kabupaten dalam bentuk kegiatan kelas dan kegiatan luar kelas. Gayung bersambut,karena tim Faskab juga mengharapkan pelaksanaan rakor kabupaten memberikan pembelajaran tidak hanya dari sisi informasi yang didapatkan tetapi diharapkan peserta juga mendapat pengalaman dan pembelajaran yang berarti dalam mengikuti kegiatan Rakor Kabupaten. Rakor Kabupaten ini akan dilaksanakan di Hotel Sinar Kasih Soroako, sebuah hotel tertua di wialayah Tambang Nikel ini.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, maka disusunlah jadwal pelaksanaan Rakor diman secara besarnya dapat digambarkan sebagai berikut:

1.    Hari Pertama adalah kegiatan full didalam kelas dengan materi – materi yang telah disiapkan oleh pihak Fasilitator Kabupaten bersama Panitia Pelaksanayaitu Region Kecamatan Wasuponda, Towuti dan Kecamatan Nuha.
2.    Hari kedua adalah kegiatan luar kelas yang dikemas dalam bentuk outbound, kegiatan ini berlangsung kurang lebih 8 Jam yang berlokasi di Sekitar Danau Matano, dan masih dilanjutkan dengan kegiatan kelas untuk mengikuti materi penguatan dengan judul pelayanan prima yang dibawakan oleh ibu Kepala Badan.


Kegiatan dalam kelas diisi dengan materi – materi sebagai berikut:
-       Informasi terkini khususnya yang berkaitan dengan hasil kinjungan Ibu Deputi Koorprov dibeberapa kecamatan ( Mangkutana, Tomoni dan Wotu) dimana masih menemukan beberapa kekurangan dalam hal pencatatan pembukuan UPK dan yang berkaitan dengan pengendalian dan pendampingan pihak Fasilitator Kecamatan. Materi ini secara bergantian disampaikan oleh Tim Faskab PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Luwu Timur.
-       ReFleksi Pengelolaan Kegiatan Prasarana Fisik (Pelelangan, Laporan prasarana dan Sertifikasi serta Trial) dibawakan oleh Fastekab (Guntur Amir)
-       Managemen Pengelolaan Pelatihan dan Pengelolaan Administrasi Program yang disampaikan oleh Faskab Pemberdayaan (Ruslan Daud Mendogu)
-       Evaluasi Laporan Keuangan dan Penanganan Maslah berdasarkan skala Prioritas yang dibawakan oleh Faskeu (Andi Narwis).

Metode yang digunakan adalah brainstorming, presentasi dan dialog. Para peserta cukup antusias dalam mengikuti tiga materi ini, diskusi dan dialog juga berlangsung cukup hidup antara pembawa materi dengan peserta yang terdiri dari unsur FK dan FT, Pengurus UPK, Pendamping Lokal dan unsur PjOK. Kegiatan dalam kelas ini berlangsung selama sehari penuh.

Jogging Pagi sebelum Outbound
Hari kedua adalah kegiatan luar kelas yang diawali dengan secara bersama – sama mengikuti Senam pagi yang pandu oleh instruktur professional yang khusus didatangkan dari Kota Masamba Kabupaten Luwu Utara. Kegiatan senam pagi berlangsung dari jam 6.00 Pagi hingga jam 08.00.

Setelah kegiatan Senam pagi usai, para peserta istrahat sejenak sampil sarapan pagi dan tepat jam 08.30 seluruh peserta bersama dengan Tim Koordinasi PNPM Mandiri Kabupaten Luwu Timur menuju lokasi kegiatan outbound yaitu dpinggir Danau Matano Soroako. Kegiatan Luar Kelas ini diawali dengan senam ketawa, sebuah senam untuk merilekskan pikiran masing – masing peserta dan membuang berbagai permasalahan yang menganggu pikirannya sehingga dapat  mengikuti kegiatan Outbounf dengan penuh kecerian.

Senam Ketawa untuk merilekskan pikiran
Pelaksanaan kegiatan outbound ini dipandu secara langsung oleh Sekeretaris BPM dan Pemdes Kabupaten Luwu Timur ( Ruslan R, M.Si). Berbagai permainan diberikan dan semua peserta hanyut dan serius dalam mengikuti setiap tahapan dan bentuk permainan yang diberikan oleh Instruktur begitupula dengan Ibu Andita (Kepala BPM dan Pemdes Kabupaten Luwu Timur) serta Ibu PjOK Kabupaten Luwu Timur ( Ibu Sumiaty Ilyas, M.Si). Kegiatan Outbund ini dapat digambarkan sebagai berikut:
1.    Berbaris berdasarkan unsur – unsur yang telah ditetapkan oleh pihak instrukur. Adapaun unsur kelompok yang ditetapkan adalah sebagai berikut: 1. Unsur PjOK, Satker dan Unsur Tim Faskab. 2. Unsur Pengurus UPK dan Pendamping local. 3. Unsur Fasilitator Pemberdayaan dan 4. Unsur Fasilitator Teknik.

Ha..hu... sambil maenyebutkan nama 5 orang kiri kanan
2.    Membuat lingkaran Kecil dan Lingkaran besar. Pada kegiatan ini Instruktur menginstruksikan pada  para Peserta jika berdiri menghadap kedepan, maka semua peserta meneriakkan kata Hu. Dan Jika Berdiri membelakangi, maka peserta meneriakkan kata Ha…. Dan jika berdiri menyamping maka seluruh peserta meneriakkan kata ha… hu… berulang – ulang sambil mengoyangkan badan meniru gaya gorilla. Permainan ini berlanjut, jika instrukutr menyebutkan kata Hu … pada salah seorang peserta, maka peserta yang ditujuk harus mampu menyebutkan nama lima orang yang berdiri disamping kanannya, dan jika mengatakan ha…, maka peserta yang ditujuk harus mampu menyebutkan 5 nama peserta yang berada di samping kirinya., Bagi yang tidak dapat menyebutkan secara lengkap maka peserta tersebut akan mendapat hukuman dengan bentuk hukuman ditentukan oleh peserta, tentu saja hukukamn yang diberikan adalah hukuman yang menghibur, misalnya diminta menyanyikan lagu – lagu lucu atau menirukan gaya salah satu binatang.

3.    Kegiatan berkutnya peserta diminta untuk berbaris dimasing – kelompok berdasarkan tahun kelahiran, mulai dari paling kecil yang dilanjutkan dengan peserta dimnita untuk membentuk barisan berdasarkan pada urutan nomor sepatu dari yang paling kecil sampai yang besar. Kelompok yang dapat membtuk barisan paling cepat mendapatkan hadiah tepuk tangan dari para peserta dan pihak Instruktur.

Ayo siapa yang paling panjang barisannya......
4.    Tahapan selanjutnya peserta diminta untuk membuat barisan dengan bergandengan tangan sepanjang yang bisa dilakukan dengan catatan tidak boleh terputus, untuk dapat membuat barisan yang terpanjang, maka peserta dioblehkan untuk menggunakan apa saja yang ada pada badannya yang sedang dipakai, maka masing – masing kelompok berupaya menggunakan apa saja yang dimilikinya seperti baju, Tali sepatu agar dapat menjadi barisan yang paling panjang. Sesi ini kelompok FT dinyatakan sebagai kelompok dengan baris paling panjang.

Bisa gak balikkan badan tanpa mlepas pegangan????
5.    Seluruh Kelompok kembali untuk membuat lingkaran kecil masing – masing kelompok dengan cara bepegang tangan dan saling berhadap – hadapan . Instruksi yang diberikan oleh oleh instrutur adalah semua kelompok harus dapat membalikkan badang dan saling membelakangi dengan tidak melepaskan pegangan tangan masing – masing ( Kelompok yang terlihat melepaskan tangan dianggap gugur). Tahap ini yang dianggap paling cepat melakukan adalah kelompok UPK.

Ibu kaban turut serta dalam acara outbound, salut buat Ibu
6.    Kelompok kembali pada barisannya masing – masing dan masih dalam bentuk lingkaran kecil, dimana tetap berpegangan tangan,  namun tangan yang dipegang harus melewati selangkangan orang memiliki tangan. Masing – masing kelompok  berlomba memasukkan Lingkaran Hulahu dari satu anggota kelompok ke lainnya sampai pada orang terakhir. Instruksi yang diberikan oleh Instruktur adalah dengan posisi yang ada masing – masing kelompok berlomba untuk memindahkan hulahu dari satu peserta ke peserta lainnya hingga orang pertama dengan catatan tangan ytidak boleh terlepas. Kelompom yang paling cepat  elakukan adalah kelompok Satker Kabupaten dengan tidak ada kesalahan yang dibuat.


Memindahkan gelang hulahu tampa lepas tangan
7.    Masih dengan posisi lingkaran yang sama, masing – masing kelompok dimasukkan tali yang melewati tangan yang dimsukkan pada selangkangan masing – masing peserta, Pada tahapan ini peserta atau kelompok akan berlomba melepaskan tali yang ada tanpa harus melepaskan pegangan tangan. Pada tahapan ini, Instruktur harus mengulang beberapa kali karena ada saja kelompok yang salah dalam melakukan sesuai yang diinstruksikan.Setelah semua siap, maka Instruktur memberikan aba – aba untuk mulai, maka semua kelompok berusaha menjadi yang tercepat dalam melepaskan tali tanpa harus melepaskan pegangan tangan. Tahap ini yang paling cepat melakukan adalah tetap kelompok Tim Satker Kabupaten bersama Tim Faskab.

Bolanya jangan sampai jatuh yah....
8.    Kegiatan Selanjutnya adalah Perlombaan membawa bola plastic diatas tandu dengan cacatan bola yang ada tidak boleh jatuh. Pada sampai diujung lapangan harus dilanjutkan oleh dua anggota Tim yang sudah siap dengan cara membawa bola  dengan cara dijepit diperut sampai pertengahan lapangan. Dan dipertengahan lapangan dua orang anggota Tim yang sudah siap dan harus membawa bola dengan cara jepit dipunggung masing – masing. Keduanya harus membawa bola tersebut sampai di garis star. Pada Sesi pertama yang berlomba adalah Tim Satker Vs Tim UPK dan  PL yang dimenangkan oleh Tim UPK. Sesi kedua yang berlomba adalah Tim FK Vs Tim FT yang dimenangkan oleh Tim FT. Pada acara Final Tim FT melawan Tim UPK dimenagkan oleh Tim UPK.

Ayo.... siapa cepat sampai di finish.....
9.    Kegiatan Selanjutnya adalah perlombaan adu kecepatan dengan cara menginjak kayu yang dipegang oleh masing – masing anggota kelompok sampai pada garis finis yang telah ditentukan. Pada tahap ini masing – masing anggota kelompok sebanyak 10 orang saling berhadap – hadapan dengan memegang sepotong kayu yang akan dijadikan pijakan oleh salah satu anggota kelompok untuk mencapai finis. Anggota kelompok yang naik dikayu tidak boleh jatuh sampai diakhir tempat yang ditetapkan sebagai garis finis. Bukan saja dibutukan kekuatan fisik tetapi juga kecerdasan untuk berpindah agar yang ditugasi berjalan diatas kayu – kayu yang dipegang tadi tidak terjatuh yang berakibat pada didiskualifikasinya kelompok yang melanggar. Tahap Pertama Tim Satker melawan Tim UPK dan dimenangkan oleh Tim UPK. Tahap kedua mTim FK melawan Tim FK dan dimenagkan oleh tim FT. Pada saat Final yang menjadi terbaik adalah Tim UPK.

Diantara beberapa kegiatan outbound sebagaimana yang disebutkan diatas, masih ada beberapa kegiatan yang cukup memberikan semangat bagi para peserta untuk terlibat dan berapartisipasi aktif tanpa melihat perbedaan posisi, semuanya menjadi satu saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama. Kegiatan Outbound diakhiri dengan acara refreshing mandi – mandi di Danau Matono, yang merupakan salah satu danau terdalam di dunia. Badan kembali segar dan siap lagi untuk mnegikuti kegiatan selanjutnya.

Setelah makan siang, para peserta kembali ke hotel dan beristrahat sejeknak untuk menghilangkan penat selama kegiatan Outbound. Tepat pada pukul 14.00, kegiatan kelas dilanjutkan dengan materi Pelayanan Prima ,yang lamgsung dibawakan oleh ibu kepala BPM dan Pemdes Kabupaten Luwu Timur ibu Andi Tabacina Ahmad, M.Si yang lebih suka kalau dipanggil Andita. Menurut Andita Inti dari Pelayanan Prima adalah akumulasi dari Pengetahuan, Keterampilan dan Sikap, lebih lanjut beliau mengatakan bahwa pelayana prima adalah pelayanan yang dilakukan dengan hati dan penuh keikhlasan atau Fibrant Facilitation. Beberapa catatan materi tentang pelayanan prima adalah sebagai berikut:
1.    Rapat Koordinasi jangan dianggap sebagai rutinitas, tetapi yakin saja pasti ada tambahan nilai yang didapat dari kegiatan Rakor baik disadari maupun tidak disadari.
2.    Teori sebaik apapun, jika tidak ditunjang sinergitas antara otak kiri dan otak kanan, maka hasilnya akan kurang bermanfaat.
3.    Orang bisa bertahan hidup tanpa makan beberapa hari, tetapi hidup tanpa harapan kadang – kadang dapat  membunuh.
4.    Sebagai Fasilitator masyarakat, maka harus menerapkan pelayanan prima dalam setiap kegiatan.
5.    Teori dan aplikasi harus berjalan seimbang dan sinergis, tidak boleh yang satu dianggap lebih penting dari yang lainnya.
6.    Pelayanan prima adalah bekerja dengan cinta, sepenuh hati dan ihlas.Bekerja karena kesadaran ingin membangun bukan karena mengharapkan materi.

Metode Rakor ini sangat berkesan diantara para peserta dan berharap agar Rakor – rakor selanjutnya selalu ada inovasi yang diciptakan agar Rakor benar – benar dapat memberikan pembelajaran bagi semua yang hadir. Dengan metode baru ini, tercatat semua unsur yang harus hadir, semuanya hadir  sampai pada acara penutupan rakor. Kondisi yang belum pernah terjadi dalam sejarah Pelaksanaan Rakor PNPM Mandiri Perdesaan di Bumi Batarguru ini Kabupaten Luwu Timur yang merupakan harapan semua Fasilitator dan Pelaku – pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di Kabupaten Paling Ujung Sulawesi Selatan ini.